Mata kuliah “Indonesia Masa Kerajaan Tradisional” merupakan kajian mendalam tentang dinamika sejarah dan kebudayaan yang berkembang di Nusantara pada masa kerajaan-kerajaan klasik. Fokus utama perkuliahan ini adalah memahami peran penting kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Kadiri dalam membentuk struktur politik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Indonesia masa lampau. Tidak hanya sebagai kekuatan politik, kerajaan-kerajaan ini juga berperan besar dalam membangun fondasi nilai budaya dan identitas nasional yang masih relevan hingga saat ini (Suswandari et al., 2021; Mahamid, 2023).

Relevansi mata kuliah ini sangat kuat dalam membentuk kesadaran sejarah mahasiswa serta menanamkan nilai-nilai karakter bangsa melalui pemahaman akan peninggalan budaya lokal. Mata kuliah ini tidak hanya penting untuk memahami sejarah, tetapi juga untuk membangun identitas budaya dan nilai-nilai karakter generasi muda. Kajian tentang kerajaan-kerajaan tradisional di Indonesia diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam pembelajaran sejarah, dengan menekankan pada pentingnya kebudayaan lokal dan pemahaman akan akar sejarah bangsa. Pemanfaatan tinggalan sejarah seperti prasasti, arca, dan relief termasuk di antaranya relief cerita Panji yang tersebar di berbagai candi di Jawa Timur menjadi sarana penting dalam menyampaikan pesan historis secara kontekstual dan bermakna (Firmansyah & Chalimi, 2022; Haqi & Asih, 2024).

Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini yang berjudul “Pengembangan Bahan Ajar Digital Materi Relief Panji di Percandian Jawa Timur untuk Menunjang Kesadaran Sejarah dan Pemahaman Sejarah Mahasiswa Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang”, memiliki keterkaitan erat dengan capaian pembelajaran mata kuliah ini. Dengan mengembangkan bahan ajar digital berbasis relief Panji, penelitian ini tidak hanya memperkuat pemahaman terhadap budaya dan nilai-nilai masa kerajaan, tetapi juga menghadirkan pendekatan pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan relevan bagi mahasiswa sejarah.

SEJARAH CERITA PANJI

Cerita Panji merupakan bagian dari sejarah lama atau klasik Indonesia yang dikenal dan ditulis oleh ahli dari berbagai Negara. Sebelum pembahasan lebih dalam, penting untuk mengkaji definisi dari Cerita Panji. Mengapa disebut dengan istilah Cerita Panji? Konsep Cerita Panji pada dasarnya perlu ditinjau secara etimologis maupun terminologis. Cerita pada dasarnya sebuah karangan yang menuturkan perbuatan pengalaman baik yang terjadi atau hanya sebuah rekaan belaka (Poerwadarminta, 1986). Pengertian Panji, dalam kamus Jawa Kuno merupakan istilah yang berarti gelar (Nurcahyo, 2022). Sedangkan Panji apabila diulang menjadi “Panji-Panji” ini berarti umbul-umbul atau bendera (Mardiwarsito, 1987). Hal ini juga dipertegas dalam Bausastra Jawa Kuno yang mengartikan Panji sebagai bendera, gelar bangsawan, nama pangkat dalam ketenaran, dan nama pangkat setingkat dengan wedana (Prawiroatmodjo, 1975).

Apabila ditarik kesimpulan dasar, maka Cerita Panji sebenarnya adalah sebuah cerita yang mengisahkan pengalaman-pengalaman seseorang yang bergelar bangsawan baik yang terjadi secara nyata atau hanya sebuah rekaan semata. Akan tetapi, tidak semua nama Panji melekat pada tokoh raja atau bangsawan kerajaan (Nurcahyo, 2022). Jadi, sebutan Cerita Panji dalam hal ini adalah sebuah frasa yang bukan hanya dimaknai sebagai cerita tentang seseorang yang bernama Panji. Ini juga ditegaskan oleh pendapat Robson (1971) dalam Wangbang Wideya yang menjelaskan bahwa istilah Cerita Panji merupakan sebuah tema yang merujuk pada sekelompok cerita dengan tanda konsistensi dalam penggambaran tokoh yang selalu bersifat istana sentris. Robson juga melihat sebutan asli Panji ini dikaitkan dengan Apanji.

Penyebutan Apanji ini dilatarbelakangi adanya singgungan dalam kitab Pararaton yang menyebutkan:

Hana ta patihira nduk mahu ajening prabhu, puspata sira mpu Raganatha asalah linggih mantun apatih ginanten dhira Kebo Tengah Sang Apanji Aragani

Artinya: “Adalah seorang patih ketika Krtanegara baru djadi rajdja, bernama Mpu Raganatha, selalu memberikan nasihat-nasihat baik kepada radja, tidak diperhatikan oleh Krtanagara; itulah sebabnja Mpu Ragatha meletakkan djabatan sebagai patih, digantikan oleh Kebo Tengah sang Apanji Aragani.” (Hardjowardojo, 1965).

Berdasarkan tinjauan tersebut, maka dapat diperoleh kesimpulan yang lebih dalam tentang asal-usul nama Panji. Nama Panji pada dasarnya berasal dari kata Apanji atau Mapanji yang diartikan sebagai gelar bangsawan tinggi dalam kamus Jawa Kuno. Adapun beberapa tokoh yang menggunakan kata Panji, Apanji, maupun Mapanji adalah Panji Inu Kertapati, Apanji Tohjaya, Apanji Aragani, Mapanji Garasakan. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dinilai bahwasannya penokohan dalam Cerita Panji selalu bersinggungan dengan lingkup istana. Sedangkan Zoetmulder (1973) menyampaikan bahwa Cerita Panji merujuk kepada tema yang menceritakan cinta atau pernikahan pangeran Kahuripan atau Jenggala dengan puteri Dhaha. Mereka dikenal dengan tokoh Panji Inu Kertapati dan Galuh Candra Kirana.

Peneliti dalam hal ini memiliki pendapat yang searah dengan Munandar, (2020), yang menyampaikan bahwa istilah Panji sudah dikenal sejak masa Kerajaan Kadiri, Singhasari, hingga Majapahit. Kata Panji ini mengacu pada tokoh ksatria, raja, putera mahkota, hingga pejabat kerajaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tokoh-tokoh ini pastilah memiliki kisah kehidupannya masing-masing, itulah mengapa Cerita Panji memiliki banyak versi dengan uraian yang berbeda. Karena dapat disimpulkan bahwa setiap Cerita Panji bisa saja mengacu kepada kehidupan seseorang. Lantas mengapa latar belakang Cerita Panji adalah kerajaan-kerajaan tersebut? Maka dari itu kita perlu melakukan analisis lebih dalam tentang penelitian terdahulu menyoal Cerita Panji. Berikut adalah beberapa penelitian terdahulu yang berusaha membahas tentang Cerita Panji.

PENELITIAN TENTANG CERITA PANJI

No.

Penulis

Tahun

Judul Karya

Keterangan

1.

T. S.  Raffles

1830

History of Java

 

2.

J. Hageman

1849

Algemene Geschiedenis

 

3.

Cohen Stuart

1853

Jayalenkara

Cerita Panji dibahas dari sudut pandang sastra.

4.

Roorda

1854

Pandji-Verhalen In Het Javaansch

Termuat dalam bentuk teks.

5.

R. Van Eck

1876

Beknopte handleiding bij de beoefening van de Balineesche taal

Cerita Panji dibahas dari sudut pandang geguritan.

6.

Georg Brandes

1901

 

Cerita Panji dibahas dari sudut pandang tembang.

7.

P. V. van Stein Callenfels

1916

De basreliefs van het tweede terras van Panataran

Membahas Cerita Panji dalam relief candi Penataran.

8.

Poerbatjaraka

1940

 

Membahas tentang muncul dan berkembangnya Cerita Panji di Nusantara.

9.

Poerbatjaraka

1968

Tjeritera Pandji dalam Perbandingan

Membahas tentang berbagai versi Cerita Panji.

10.

T. G. T. Pigeaud

1967

Literature of Java. Catalogue Raisonné Javanese Manuscripts inthe Library of the University of Leiden and Other Public Collectionsin the Netherlands

Membahas tentang muncul dan berkembangnya Cerita Panji di Nusantara.

11.

S. O. Robson

1971

Wangbang Wideya

Membahas Cerita Panji dari sudut pandang sastra.

12.

J. Terwen de Loos

1971

De Pandji-reliëfs van oudheid LXV op de Gunung Bekel Penanggunan

Membahas Cerita Panji dalam penelitiannya di Gunung Bekel.

13.

P. J. Zoetmulder

1974

Kalangwan

Membahas berbagai jenis sastra Jawa Kuno, termasuk karya-karya berbahasa Kawi dan transisi ke sasta Jawa Pertengahan. Cerita Panji dikaji dari sudut pandang sastra lisan dan tertulis.

14.

C. C. Berg

1974

Penulisan Sejarah Jawa (Terjemahan S. Gunawan)

Membahas tentang muncul dan berkembangnya Cerita Panji di Nusantara.

15.

W. H. Rassers

1982

Panji, The Culture Hero

Membahas tentang analisis peran Panji dalam konteks budaya Jawa serta hubungannya dengan sistem sosial kepercayaan masyarakat. Dikaji dari sudut pandang antropologi.

16.

Lydia Kieven

2014

Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit: Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke-14 dan ke-15

Membahas tentang kajian Cerita Panji dalam relief candi dari sudut pandang tata busana.

17.

Agus Aris Munandar

2021

Tekes: Tinjauan terhadap Kisah-Kisah Panji

Membahas tentang kajian Cerita Panji dalam relief candi dari sudut pandang tata busana.

PRASASTI TENTANG CERITA PANJI

No.

Prasasti

Penemuan

Kronologi

Keterangan

1.

Prasasti Sumbut

Masa pemerintahan Mpu Sindok

855 Saka

Keterangan bahwa Mpu Sindok memberi anugerah Sima desa Sumbut kepada Sang Mapanji Jatu Ireng

2.

Prasasti Terep I

Raja Airlangga

954 Saka

Keterangan bahwa Raja Airlangga memberikan anugerah kepada adiknya Rake Pangkaja Dyah Tumambong Mapanji Tumanggala

3.

Prasasti Banjaran

974 Saka

Keterangan bahwa seorang raja bernama Mapanji Alayung Ahayes memberi anugerah kepada smya haji di Banjaran

4.

Prasasti Sirahketing

Raja Jayawarsha Digjaya Sastra Prabu

1126 Saka

Keterangan adanya penyebutan Raja Jayawarsha Digjaya Sastra Prabu sebagai cucu dari anak Sang Apanji Wijayamertawardhana

5.

Prasasti Gunung Wilis

Masa pemerintahan Raja Kertanergara

1191 Saka

… rakayan ri pakirakiran makabehan rakayan apatih makasirkasir Kbo Arema, rakyan Dmung Mapanji Wipaksa, rakayan Mapanji Anurida, …

6.

Prasasti Kertarajasa/Piagam Penanggungan

1218 Saka

… hanapwa Sang Apanji Pati-Pati saksat wuruh de Bhatara Cri Krtanagara, …

CIRI CERITA PANJI

Melalui kajian-kajian tersebut, latar belakang sejarah Cerita Panji mulai dikaji lebih dalam. Pigeaud (1967) menjelaskan bahwa Cerita Panji merupakan kisah roman yang berkembang di pesisir Jawa Timur pada abad 16 hingga abad 17. Sedangkan Berg (1928) mengemukakan pendapatnya bahwa Cerita Panji terjadi pada zaman Pamalatu dengan tahun 1227 sebagai terminus a quo dan tahun 1400 sebagai terminus ad quem. Poerbatjaraka dalam hal ini menolak pendapat Berg dengan dua alasan, yakni 1) apabila Cerita Panji disusun pada rentang waktu tersebut, maka ingatan penyusunnya mengenai Kerajaan Singhasari masih baik, sehingga tidak akan mencampuradukkan keberadaannya denganb Jenggala dan Dhaha, 2) tidak pernah ditemukan bukti apabila Cerita Panji ditulis dalam bahasa Jawa Kuno (Saputra, 2010). Pendapat ini juga didukung oleh Robson (1971) dan Zoetmulder (1974). Karenanya, Poerbatjaraka berpendapat bahwa Cerita Panji tertulis dalam bahasa Jawa Pertengahan dan penyebaran ke luar Jawa Timur paling awal terjadi pada masa akhir Majapahit yakni abad 15-16 M.

Secara garis besar, bentuk Cerita Panji yang tersebar di berbagai daerah pesisir Jawa dapat dikelompokkan dalam teks lisan, tulis, seni rupa, dan relief (Saputra, 2010). Bila dikaji dari perspektif Cerita Panji yang tertuang dalam relief candi, maka ciri utama tokoh laki-laki adalah memakai ikat kepala yang disebut dengan “Tekes” (Loos, 1971). Tekes atau teks dalam bahasa Jawa Kuno dapat diartikan sebagai topi yang dipakai untuk menutupi kepala seseorang, umumnya pria (Munandar, 2021). Maka dari itu, apabila terdapat panil relief yang menggambarkan adanya pria bertopi tekes, maka panil tersebut dianggap menggambarkan Cerita Panji. Namun, selanjutnya akan dilihat rangkaian penggambaran ceritanya.

Ada beberapa ciri dalam menganalisis Cerita Panji dalam relief candi menurut Munandar (2021), yakni:

  1. Adanya penggambaran tokoh pria bertopi tekes, yang berbentuk seperti blangkon Solo.
  2. Tokoh tersebut menggunakan kain panjang hingga mata kaki, kadang disingkap hingga paha.
  3. Tokoh tersebut kerap digambarkan diikuti oleh beberapa pengiring dan digambarkan dengan putri dan embannya.

Sedangkan menurut Dwi Cahyono, ada indikator atau pola-pola tertentu dalam menentukan Cerita Panji, antara lain:

  1. Tokohnya kekesatriaan
  2. Memiliki pola integrasi-distegrasi-reintegrasi
  3. Memiliki kesan bermusuhan tapi ada upaya penyatuan
  4. Memiliki balada segenerasi tapi bisa lintas generasi

Indikator-indikator inilah yang kemudian digunakan untuk menganalisis Cerita Panji yang tertuang dalam relief candi.

PERSEBARAN RELIEF PANJI DI JAWA TIMUR

Candi Penataran, Blitar

Candi Mirigambar, Tulungagung

Candi Surowono, Kediri